Home / Artikel / Anak / Menjaga Mata Si Kecil

Menjaga Mata Si Kecil

Karena mata cuma ada dua, maka kesehatannya harus dijaga sebaik-baiknya. Tidak ada gantinya, lho.

Pernah melihat keluarga yang semuanya berkacamata? Memang umumnya gangguan pada mata sangat dipengaruhi oleh faktor ayah dan ibu. Tapi gangguan itu bisa juga timbul karena perilaku yang secara tidak disadari ternyata telah membuat kerusakan pada mata. Oleh sebab itu, simak cara merawat mata berikut gejala-gejala yang harus diwaspadai oleh ibu.

Cara Merawat dan Melindungi

Anda perlu tahu, bahwa ternyata musuh utama mata adalah matahari. Terlalu lama terpapar sinar matahari kelak bisa menimbulkan katarak. Kenakan kacamatamata hitam khusus untuk si kecil bila ia melakukan aktivitas di luar rumah, terutama di siang hari. Tapi hindari kacamata yang terlalu gelap supaya si kecil masih bisa melihat apa yang ada di hadapannya.

Rumah juga penuh dengan benda-benda yang bisa membahayakan mata si kecil. Jauhi ia dari mainan yang berujung tajam, seperti tongkat, pensil dan pulpen atau ujung sofa yang tajam. Ajari juga anak Anda supaya tidak berlari dengan mainan di tangannya.

Meski tidak akan merusak, terlalu lama nonton televisi juga akan menyebabkan mata si kecil menjadi tegang. Anda bisa mengurangi jatah nonton TV-nya supaya mata si kecil tetap terasa nyaman. Jika tiba jamnya nonton, pastikan cahaya di ruangan itu memadai dan atur supaya si kecil tidak silau saat menatap layar TV. Setiap setengah jam, ajak si kecil mengistirahatkan matanya dengan melihat obyek lain yang lebih segar, seperti kebun atau kolam ikan. Pastikan juga si kecil tidak terlalu dekat dengan televisi. Jarak ideal antara televisi dan penonton adalah lima kali lebar televisi.

Anak dengan mata yang rentan iritasi sebaiknya mengenakan kacamata untuk menghindari debu saat keluar rumah. Di dalam ruangan, AC dan filter udara dapat meminimalkan risiko terjadi iritasi mata pada si kecil.

Memeriksa Mata Si Kecil

Anak balita masih belum dapat mengungkapkan pada orangtuanya jika ada sesuatu yang menganggu pandangan matanya. Mereka belum paham bahwa apa yang mereka lihat melalui pandangannya berbeda dengan apa yang dilihat oleh orang lain. Jadi Anda sebaiknya harus bisa mengenali perilaku yang mungkin menjadi tanda bahwa si kecil sudah harus diperiksa matanya.

  • Gejala paling umum adalah jika anak sering kelihatan ceroboh, seperti sering menabrak pinggiran meja.
  • Sering menggosok-gosokkan mata, meskipun ia tidak sedang mengantuk. Gerakan ini menunjukkan bahwa matanya gatal atau terasa panas.
  • Sensitif terhadap cahaya
  • Matanya sering berair, meski tidak sedang menangis.
  • Kelopak mata sering bengkak dan berwarna kekuningan.
  • Sering mengangkat kepala ke satu sisi agar pandangannya lebih baik
  • Sering menutup salah satu matanya, seakan ingin melihat keadaan dunia hanya dengan satu mata saja.
  • Membaca buku atau mainan dan barang-barang lainnya dekat dengan wajah.
  • Seringkali tidak betah melakukan aktivitas yang menggunakan mata dalam waktu lama, misalnya membaca buku.
  • Kesulitan dalam mengidentifikasi warna.
  • Sering merasa pusing bahkan mual setelah melakukan kegiatan yang memerlukan ketajaman mata (seperti membaca buku atau nonton TV)

Beragam Gangguan Mata

  • Berkedip. Biasanya jika balita mengedipkan matanya berulang-ulang, itu pertanda ia sedang mengantuk. Tapi berkedip mungkin juga merupakan kebiasaan yang dilakukan si kecil karena meniru temannya. Jika tidak diikuti dengan gejala yang lain, kebiasaan ini bisa hilang dengan sendirinya. Lain hal jika kedipan ini frekuensinya semakin sering dan mulai mengganggu. Bila hal ini terjadi, segera konsultasikan pada dokter.
  • Myopia (Mata Minus) adalah keadaan di mana si kecil tidak dapat melihat suatu benda dengan jelas dari jarak yang relatif jauh. Biasanya ini terjadi pada anak yang kedua orangtuanya juga bermata minus. Gangguan ini bisa muncul sejak anak usia balita, meski umumnya gangguan ini baru timbul setelah anak berusia dewasa.

Gejala mata minus bisa dikenali dari perilaku si kecil. Seperti, melihat buku dan menonton TV dari jarak yang dekat, dan sulit mengidentifikasi sesuatu jika jaraknya jauh. Selain itu jika diamati, letak bola mata tidak simetris atau juling.

  • Hyperopia (Mata Plus) adalah suatu keadaan di mana si kecil tidak dapat melihat dengan jelas suatu benda yang berada dalam jarak pandang relatif dekat. Bayi yang baru lahir pasti mengalami hyperopia , tapi kondisi ini akan hilang begitu ia besar. Anak-anak yang tetap mengalami hyperopia biasanya punya sejarah keturunan dari keluarganya.

Gejalanya bisa dikenali jika si kecil sampai harus menjauhkan dirinya supaya bisa melihat sesuatu dengan jelas. Kemungkinan besar ia juga tidak suka dengan permainan yang membutuhkan ketelitian mata seperti puzzle atau bahkan membaca buku.

  • Astigmatism (Silinder). Mata silinder berarti seseorang tidak dapat melihat suatu benda dengan jelas (kabur) dalam jarak pandang dekat maupun jauh yang disebabkan oleh permukan lensa yang tidak rata. Semua anak bisa terkena gangguan mata ini, terutama yang orangtuanya bermata minus atau plus. Gejalanya mirip dengan gejala pada anak yang bermata minus.
  • Strabismus adalah kondisi di mata bola mata tidak bisa fokus pada satu titik. Strabismus lazim dikenal dengan mata juling. Awalnya, mata bayi juga tidak fokus. Namun, memasuki usia setahun, seharusnya matanya sudah dapat berkoordinasi dengan baik serta simetris. Anak-anak yang mengalami strabismus biasanya suka menolak permainan yang memerlukan ketajaman pandangan, seperti melempar bola. Sesekali ia juga mungkin menggosok atau menutup mata yang lemah pandangannya.
  • Ambilyopia (lazy eyes) adalah suatu keadaan dimana pandangan terasa lebih bagus pada salah satu bagian mata, sedangkan yang lainnya tidak. Gangguan mata ini jarang terjadi. Namun seorang anak dengan mata juling cukup rentan mengalami ambilyopia . Kecelakaan yang melukai salah satu bagian mata juga menyebabkan terjadinya ambilyopia .
  • Ptosis adalah suatu keadaan di mana salah satu atau mungkin kedua kelopak mata terasa berat (seperti layu). Hal ini disebabkan oleh otot pada kelopak mata yang lemah. Ciri-cirinya adalah kelopak matanya besar dan ‘jatuh’, sehingga menganggu pandangan si penderitanya. Ptosis harus dievaluasi dan dirawat dengan pengawasan opthalmologist.