Home / Artikel / Perpecahan dan Kelalaian

Perpecahan dan Kelalaian

ADA akibat sampingan –dalam arti buruk– dari jumlah mayoritas. Kaum Muslim Indonesia agaknya memenuhi ramalan Muhammad tentang nasib kaum Muslim sepeninggalnya. Menjelang wafat, beliau bersabda, “Kelak kalian akan jatuh hina, berpecah-belah dan menjadi rebutan umat lain bagai sajian yang terhidang di meja.” Beberapa sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit ya rasul?” Jawab nabi, “Tidak! Jumlah kamu banyak bagai buih di lautan, tetapi kamu terjangkit penyakit ‘al-wahnu’, yaitu cinta dunia takut mati. Tuhan kelak akan mencabut rasa takut dari musuh kalian dan memberikan pada kalian”.

Dari riwayat tersebut dapat diambil pelajaran yaitu:

  1. Berpecah belah dapat menciptakan kelemahan karena musuh dapat memukul satu demi satu. Terbukti bahwa kaum Muslim terpecah dalam berbagai faham, ideologi, madzhab, sekte atau entah apalagi istilahnya –yang memberi peluang terjadinya cekcok yang berdarah-darah. Sebagai contoh adalah Libanon, negeri sekecil itu terdapat kaum Muslim yang terpecah antara Suni, Syi’ah dan Duruz sehingga justru non Muslim yang terkesan mayoritas. Demikian pula dengan ‘Iraq, kaum Muslim terpecah berdasar agama dan bangsa. Kaum Suni terpecah antara Arab, Kurdi dan Turki. Selain itu ada pula bangsa Arab yang menganut Syi’ah.
  2. Kaum Muslim menjadi rebutan bagai hidangan di meja sesuai dengan fakta bahwa sebagian besar kaum Muslim menempati bumi yang kaya, luas dan strategis. Indonesia adalah contoh yang jitu, sejak abad-16 menjadi rebutan imperialis Barat karena negerinya menggiurkan dan penduduknya terpecah-belah. Adapun dunia Arab kaya dengan minyak bumi dan terbagi menjadi sekitar 20 negara. Turkistan atau dikenal juga dengan Asia Tengah, kaya dengan gas bumi namun terbagi menjadi 5 negara bekas pecahan Uni Soviet dan diincar oleh AS, Rusia, Cina dan Israel. Adapun Turkistan Timur, lazim disebut “Sinkiang” atau “Xinjiang” dikuasai RRC, konon daerah tersebut kaya dengan uranium (bahan pembuat nuklir).
  3. Jumlah bagai buih di lautan, sindiran terhadap jumlah banyak tapi ringan bagai buih. Artinya kaum Muslim tidak bermutu, mudah terombang-ambing oleh berbagai permainan musuhnya. Ada yang pro salibis, ada yang pro komunis dan ada yang pro paganis. Walaupun kaum Muslim bukan mayoritas di kolong langit, namun jumlah sekitar 16 persen di dunia bukanlah sedikit. Dan di Indonesia, walaupun ummat Islamnya merupakan mayoritas namun belum pernah parpol berasas Islam meraih suara mayoritas. Kaum Muslim cenderung memilih parpol yang berasas lain walaupun anggotanya mayoritas Muslim namun menentang penerapan syari’at Islam di Indonesia. Banyaknya parpol berasas Islam bukan menunjukkan kekuatan namun justru menunjukkan perpecahan, mestinya parpol berasas Islam cukup satu. Jumlah bagai buih menunjukkan mayoritas kaum Muslim –lagi-lagi Indonesia adalah contoh yang tepat– masih terperangkap dalam keterbelakangan. Kemiskinan dan kebodohan nyata atau mudah dijumpai di negeri yang kaya sumber alam dan luas ini. Indonesia terbelit hutang dari fihak non Muslim –yang berpotensi sebagai musuh dan memang ada yang menjadi musuh– yang justru memiliki sumber alam yang jauh lebih miskin dan wilayahnya jauh lebih sempit.
  4. Kelalaian karena memiliki jumlah mayoritas di beberapa negeri berakibat kaum Muslim tidak sadar bahwa jika warga dunia –yang sekitar 6.000.000.000 (tahun 2000) – dibagi antara Muslim dan non Muslim, maka nyatalah bahwa kaum Muslim hanya sekitar 1/6 jumlah penduduk dunia. Selebihnya berpotensi sebagai musuh, dan memang banyak yang menjadi musuh. Ada salibis, zionis, komunis, paganis dan sebagainya. Belum termasuk kaum Muslim yang menjadi antek, semacam “musang berbulu ayam” atau “musuh dalam selimut”. Mereka telah disebut dalam point 3, mereka menentang niat mewujudkan Indonesia yang Islami. Ada kelalaian lain yang juga penulis temukan di Indonesia, tanpa disadari kaum Muslim terjadi pemurtadan yang disokong dari luar. Kaum Muslim Indonesia merasa masih berjumlah sekitar 85%.

Perpecahan dan kelalaian tersebut memenuhi syarat untuk mengundang musibah bagi kaum Muslim. Kedua hal tersebut bahkan cenderung dilestarikan oleh elit bangsa sendiri yang tidak amanah terhadap kekuasaan dan kekayaan. Penumpasan gerakan Darul Islam, kasus Tanjung Priok, Lampung dan Aceh hingga kini tidak jelas pengusutannya. Cap sebagai “teroris” dan “ekstremis” terhadap para aktivis Muslim justru lebih banyak diberikan oleh orang-orang yang beridentitas Muslim pula –umumnya para elit. Sadar tak sadar mereka melaksanakan agenda para musuh Islam baik luar maupun dalam, supaya dipuji antara lain sebagai “moderat”, “demokratis”, “menjunjung hak asasi manusia” atau “modern”.

Sesungguhnya, gerakan anti Islam telah ada sejak pra Islam. Dalam al-Qur’an, tuhan memberi info bahwa kehadiran Islam dan Muhammad telah diberitakan kepada para nabi sebelum beliau. Tuhan telah membuat perjanjian kepada seluruh nabi bahwa mereka akan saling membenarkan, mengakui dan menyampaikan info tentang nabi terakhir dan agama terakhir. Dalam suatu hadits, tersebutlah bahwa Adam telah diberi tahu. Inti pesan para nabi tersebut, “Jika kamu ketemu dia, ikuti dia.” Dalam beberapa kitab suci terdapat –walaupun mungkin tidak sejelas yang diharapkan– info agama dan nabi terakhir yang mengarah pada Islam dan Muhammad. Namun, sepeninggal para nabi tersebut, umat yang bersangkutan “menyensor” sebanyak mungkin ayat yang terkait dengan itu, sehingga perlu suatu keahlian tertentu untuk menemukan info yang “lolos” dari penyensoran tersebut.

Gerakan tersebut terbukti ada ketika menjelang Muhammad lahir. Kerajaan Persia misalnya, mengirim agen rahasia untuk mencarinya. Juga ketika terjadi pemberontakan terhadap pemerintahan Muslim di Madinah pasca Muhammad, dua negara super power yaitu Persia dan Bizantium diam-diam bersepakat meredakan permusuhan lama untuk membantu kaum pemberontak, walaupun agama resmi yang mereka anut memiliki dasar yang berbeda.

Persekongkolan anti Islam terulang kembali ketika perang salib (1095-1291), Hulagu Khan, cucu kaisar Mongolia yaitu Jenghis Khan, menghancur-leburkan peradaban Muslim di Baghdad pada 1258 adalah dalam rangka kerja sama dengan imperialis Barat mengepung dunia Muslim dari dua front.

Di Indonesia, persekongkolan anti Islam juga terjadi. Majapahit dan Pajajaran mencoba menjalin hubungan dengan imperialis Barat yaitu Portugis, bahkan Pajajaran melangkah lebih jauh yaitu saling mengirim utusan dan membuat perjanjian. Ketika itu 2 negara tersebut menuju proses keruntuhan akibat perselisihan intern. Kaum Muslim tampil sebagai kekuatan baru untuk mencegah krisis multi dimensi di Jawa, yang dipimpin oleh Demak. Demak sadar bahaya imperialis tersebut dan bertekad membendungnya mengingat Portugis sudah bercokol di Malaka dan Pasai –bekas kesultanan– serta mengincar Jawa yang merupakan “jantung” Nusantara.

Usaha Portugis menguasai Jawa dengan Sunda Kelapa sebagai titik awal dapat digagalkan oleh Demak. Usaha imperialis Barat menjajah Jawa “tertunda “ sekitar 100 tahun.

Beberapa kisah yang diberikan penulis menunjukkan bukti tak terbantahkan bahwa non Muslim mungkin saja berpecah belah sejauh tidak terkait dengan Islam, namun begitu terkait maka mereka satu suara, satu bahasa, satu cara, satu gaya dan satu kerja melawan Islam. Hal tersebut masih berlangsung, Peristiwa “11 September 2001” kembali membuktikan. Walaupun hinga kini pelaku sesungguhnya masih samar –dan itu diakui oleh beberapa kalangan di AS– namun sudah terbentuk “paduan suara internasional” melawan Islam dengan berkedok melawan terorisme. Layak diprihatinkan bahwa kaum Muslim ada yang ikut paduan tersebut. Ini sekaligus membuktikan ramalan nabi tersebut di atas.

Perpecahan berupa madzhab dan sekte menambah kelemahan umat, umat terkesan lupa bahwa Muhammad membawa Islam tanpa madzhab! Tegasnya hanya ada 1 Islam! Tidak ada madzhab ini, itu, anu! Madzhab muncul sekitar 150 tahun sepeninggal nabi dan apa yang disebut “imam madzhab” tidaklah bermaksud mencipta madzhab. Mereka hanya bersikap, “Pendapat saya begini….., mungkin salah mungkin benar…..” Mereka melarang untuk terpaku pada 1 pendapat saja, antara mereka juga saling menghargai. Celakanya, umat di kemudian hari mempersempit agama dengan bermadzhab-madzhab.

Penulis berpendapat –berdasar riwayat tersebut di atas– bahwa madzhab adalah bid’ah dan terbukti bahwa hal tersebut tidak membawa manfaat, kaum Muslim terpecah-belah. Perlu ada suatu gerakan berkesinambungan menghapus madzhab, kembalilah kepada kitab dan sunnah.

Check Also

Bisa Jadi Kamu Membenci Sesuatu Namun Itu Baik Buatmu

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu …